Kamis, 29 Oktober 2009

CONTOH PROPOSAL SKRIPSI

PEMBERDAYAAN WARGA SEKOLAH UNTUK
MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KEPADA ORANG TUA MURID
DI SDN 004 SENGATA UTARA

OLEH : MARTHINUS ARRUAN, S.Pd
Mahasiswa Program Pascasarjana Manajemen Pendidikan UNMUL

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sekolah sebagai organisasi mempunyai struktur dan kultur. Sebagai bagian dari struktur birokrasi pendidikan SD / MI merupakan satuan pendidikan dalam lingkungan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota yang pembinaannya langsung di bawah Dinas Pendidikan. Oleh karena sekolah merupakan satuan pendidikan maka di dalam sekolah terdapat komunitas yang terdiri atas pendidik, peserta didik dan tenaga kependidikan. Komunitas ini merupakan komunitas kolektif yang menjalankan sistim pendidikan nasional pada tingkat lokal kabupaten/kota. Secara sosial kultur sekolah merupakan komunitas yang memiliki budaya, yakni budaya sekolah atau school culture. Budaya sekolah, seperti juga entitas kebudayaan yang lain memiliki sejumlah sistem antara lain sistem managemen, sistem kurikulum, sistem teknolgi informasi, sistem kepercayaan, bahasa, dan kesenian.
Sistem manajemen yang kini dianut dalam pengelolaan sekolah adalah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Sistem kurikulum yang kini mulai diterapkan
adalah otonomi kurikulum atau curriculum autonomy.
1
Otonomi kurikulum merupakan imperatif sebagaimana hal itu digariskan dalam Pasal 38 ayat 2 UU RI N0.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang menyatakan bahwa ”Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan propinsi untuk pendidikan menengah. Sistem teknologi yang secara sempit diartikan sistem sarana prasarana ditetapkan secara nasional dengan standar pelayanan minimal dalam konteks managem berbasis sekolah, sebagaimana hal itu dinyatakan dalam dalam pasal 51 ayat (1) yang menyatakan bahwa ” Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip managemen berbasis sekolah/madrasah.
Dengan diberlakukannya otonomi daerah membawa pengaruh yang cukup signifikan terhadap sektor pendidikan, yaitu berubahnya sistem pendidikan dari paradigma lama yang sentralistik menjadi paradigma baru yang desentralistik. Dengan paradigma desentralistik ini sekolah memiliki hak dan kewenangan sepenuhnya untuk mengatur diri sendiri. Hal ini sangat menguntungkan karena sekolah dapat mengembangkan sekolah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sendiri. Namun dalam pelaksanaannya, sekolah belum dapat melaksanakan hak dan kewenangannya tersebut karena sekolah belum memiliki pengalaman kemandiria yang cukup dan masih memiliki rasa ketergantungan yang tinggi kepada atasan.
Ini dapat diketahui dari pernyataan yang sering kita dengar misalnya ”menunggu
2
petunjuk dari atasan”, atau ”belum ada juklaknya”. Sejalan dengan diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang memberi bekal pada pengelolaan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. MBS merupakan modal manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif untuk meningkatkan mutu sekolah, atau mencapai tujuan yang ditetapkan bersama dalam kerangka pendidikan nasional. Otonomi merupakan kewenangan dan kemandirian dalam mengatur dan mengurus diri sendiri dan tidak tergantung lagi pada yang lain.
Kemandirian ini perlu didukung oleh sejumlah komponen dan kemampuan. Komponen menyangkut seluruh komponen warga sekolah yang meliputi kepala sekolah, dewan guru dan staf administrasi/ketatausahaan. Sementara kemampuan berkaitan dengan kemampuan manajerial yang antara lain berkaitan dengan pengambilan keputusan, pemecahan masalah,kerja sama,demokrasi dan terbuka. Dengan demikian maka ciri sekolah yang melibatkan semua komponen sekolah adalah sekolah yang memberdayakan komponen-komponen tersebut dengan intensitas tinggi,dengan sistem manajerial yang tinggi, bersifat adaptif, antisipatif, dan partisipatif, serta memiliki rasa tanggung jawab dalam pelayanan kepada orang tua murid sebagai pihak yang akan menerima hasil pelayanan di sekolah.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam proposal penelitian adalah bagaimana pengaruh pemberdayaan warga sekolah untuk meningkatkan pelayanan kepada orang tua murid di SDN 004 Sengata Utara. 3
1.3 Tujuan
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan :
untuk membuktikan apa ada pengaruh pemberdayaan warga sekolah terhadap
kualitas pelayanan terhadap orang tua murid di SDN 004 Sengata Utara,
untuk membuktikan efektifitas penerapan manajemen berbasis sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualiatas pelayanan sekolah terhadap orang tua murid di SDN 004 Sengata Utara,
untuk membuktikan kemampuan manajerial sekolah terhadap kualitas pelayanan kepada orang tua murid di SDN 004 Sengata Utara,
untuk mengembangkan teori atau pendapat tentang pentingnya keterlibatan semua komponen sekolah dalam meningkatkan kualitas sekolah.

1.4 Manfaat
Penelitian yang dilaksanakan di SDN 004 Sengata Utara ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik bagi peneliti itu sendiri maupun kepada pihak-pihak lain.
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi:
Kepala Sekolah Dasar Negeri 004 Sengata Utara untuk mengembangkan program sekolah dengan melibatkan warga sekolah
Kepala SDN 004 Sengata Utara untuk konsisten dalam menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS),
bagi pengelolah sekolah agar tetap melibatkan unsur-unsur sekolah dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kebijakan sekolah,
4
Guru dalam memahami dan menjalankan tugas profesional sebagai pendidik dalam membangun warga sekolah,
Tenaga kependidikan terkait dalam mendukung implementasi program sekolah yang berkaitan dengan pemberdayaan warga sekolah,
Komite sekolah agar berperan aktif dalam mewujudkan sekolah yang kondusif.
sebagai bahan referensi bagi pengelolah sekolah yang ada di Sengata Utara
sebagai masukan kepada dinas pendidikan agar memberikan otonomi yang seluas-luasnya di sekolah dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri.













5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
2.1.1 Pemberdayaan Warga Sekolah
Sebelum menguraikan lebih rinci tentang pemberdayaan warga sekolah ada baiknya terlebih dahulu mendefenisikan tentang kata daya. Daya merupakan tenaga atau kemampuan untuk melakukan suatu kegiatan (Yasyin,1997). Dari arti kata daya ini mengandung pengertian bahwa pemberdayaan merupakan usaha untuk melibatkan semua kemampuan dalam melakukan berbagai kegiatan, termasuk di dalamnya adalah kegiatan pengelolaan sekolah. Sejalan dengan itu Drs. Kuswaya Wihardit, mengartikan pemberdayaan sebagai peningkatan peran dan kinerja. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa pemberdayaan warga sekolah adalah memanfaatkan kemampuan, orang dan segala daya untuk mencapai tujuan bersama melalui perencanaan program dengan keterlibatan seluruh komponen sekolah sebagai kekuatan sekolah. Komponen kekuatan sekolah itu mempunyai peranan yang berbeda-beda tetapi selalu bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah. Pemberdayaan disini lebih menekankan pada peningkatan peran dan fungsi dari masing-masing anggota warga sekolah secara optimal.
Prinsip dasar dari pemberdayaan warga sekolah ditekankan pada prinsup umum managemen, yakni planning,organizing,actuating dan controling (POAC), yang paling menonjol adalah adalah selain unsur organisasi satuan pendidikan juga
terdapat unsur pemangku kepentingan yang diwadahi dalam komite sekolah.
6
Oleh karena itu dalam pegembangan kesisteman sekolah diperlukan mekanisme dan kerja internal dalam organisasi sekolah yaitu kepalas sekolah, dewan guru, peserta didik, pegawai tata usaha, sarana dan prasarana, fasilitas,lingkungan, organisasi kesiswaan dan antara organisasi sekolah dengan komite sekolah.

2.1.2 Pengertian Pelayanan
Pelayanan adalah usaha melayani kebutuhan orang lain, (Sutopo dan Suryanto.2006). Jadi pelayanan pada dasarnya adalah kegiatan yang ditawarkan oleh seseorang atau organisasi kepada konsumen (customer ). Pelayanan merupakan tindakan nyata yang sifatnya sebagai tindakan sosial yang memberikan pengaruh nyata terhadap hasil pelayanan.
Pelayanan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pelayanan yang sangat baik dan atau pelayanan yang terbaik ( excellent service). Disebut sangat baik atau terbaik karena sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku atau dimiliki oleh sekolah yang memberikan pelayanan. Jadi pelayanan dalam hal ini adalah pelayanan yang manakalah dapat atau mampu memuaskan pihak yang dilayani (pelanggan). Jadi pelayanan di sekolah dalam hal ini sesuai dengan harapan orang tua murid.
Pelayanan merupakan suatu proses interaksi antara dua orang atau lebih atau interaksi antara komponen sekolah (pelayan) dengan orang tua (dilayani). Karena merupakan suatu proses interaksi maka pelayanan bertujuan untuk memberikan layanan yang dapat memenuhi dan memuaskan pelanggan atau masyarakat serta memberikan fokus pelayanan kepada pelanggan. Untuk meningkatkan mutu
7
pelayanan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni; (1) Berfokus pada pelanggan, (2) Obsesi terhadap mutu, (3) Komitmen jangka panjang, (4) Kerja sama tim, dan (5) Perbaikan sistem secara berkesinambungan.

2.1.3 Pemberdayaan Warga Sekolah dan Pelayanan Kepada Orang Tua
Pemberdayaan warga sekolah merupakan salah satu prinsip manajemen berbasis sekolah. Dalam prinsip ini menekankan pada bagaimana memanfaatkan kemampuan, orang dan segala daya untuk mencapai tujuan bersama. Pelayanan yang baik kepada orang tua tidak mengenal bekerja sendiri, namun memanfaatkan orang dan kemampuan orang untuk mencapai tujuan dengan perencanaan program yang baik, dan memberdayakan semua seluruh komponen sekolah sebagai kekuatan sekolah.
Berikut ini akan diuraikan dengan singkat peran beberapa warga sekolah dalam memberikan pelayanan kepada orang tua murid.

2.1.3.1 Kepala Sekolah
Kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi ( top manager) di sekolah harus memiliki kemampuan memberdayakan semua komponen sekolah baik berupa sumber daya manusia, prasarana-sarana maupun berupa dana untuk meningkatkan kinerja
sekolah yang pada akhirnya meningkatkan mutu pelayanan kepada orang tua. Terry dan Rue (1985) dalam Huseini Usman,(2006.250) mengartikan kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seorang pemimpin, memengaruhi orang lain untuk
8
bekerja sama secara sadar dalam hubungan tugas yang diinginkan. Memperhatikan pendapat di atas dapat diartikan bahwa seorang kepala sekolah harus mampu mempengaruhi semua komponen yang ada di sekolah untuk bekerja sama. Dengan demikian maka seluruh kebijakan, keputusan dan tindakan selalu didasarkan pada keputusan partisipatif yang menyertakan seluruh warga sekolah. Kepala sekolah berperan untuk mengkondisikan,memfasilitasi, dan menciptakan iklim mendukung terbentuknya pelayanan yang berkualitas kepada semua orang tua murid.
Kepala sekolah sebagai manajer memiliki peran penting dalam mengadakan prediksi, inovasi, kebijakan dan strategi, perencanaan, menemukan sumber-sumber pendidikan, menyediakan fasilitas dan melaksanakan pengendalian/pengawasan. Kepala sekolah sebagai pemimpin harus dapat mengantisipasi perubahan, senantiasa melakukan perubahan, memahami dan mengatasi situasi, mengakomodasi serta melakukan reorientasi.
Kepala sekolah juga harus mampu membuat keputusan bijaksana dengan memperhatikan kebijakan operasional penyelenggaraan pendidikan. Disamping itu kepala sekolah sebaiknya menyusun perencanaan dan pelaksanaan yang ditindaklanjuti dengan pengawasan. Pengawasan ini dilakukan agar semua program dan kegiatan berjalan secara efektif dan efisiensi.
Kepala sekolah harus menciptakan iklim yang sehat,kondusif, budaya kerja yang harmonis dan lingkungan yang nyaman untuk bekerja untuk mendukung proses pembelajaran yang efektif dan produktif. Untuk kepala sekolah sebaiknya menempatkan orang pada posisi yang tepat ( the righ man in the righr place).
9
2.1.3.2 Dewan Guru
Ujung tombak keberhasilan dan kemajuan sekolah adalah guru. Dewan guru merupakan suatu forum di lingkugan sekolah. Sebagai tenaga profesional guru harus selalu meningkatkan diri dan menambah wawasannya dalam mengikuti perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui peningkatan kualifikasi,kompetensi dan sertifikasi, sesuai dengan Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Guru sebagai unsur pendidik yang menjunjung prinsip profesionalisme perlu selalu berupaya untuk melakukan inovasi dan improvisasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guna mencapai hasil belajar yang baik. Ciri yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk mendukung dan meningkatkan pelayanan kepada orang tua murid selain sebagai agen pembelajaran, guru harus tetap menjalin hubungan yang kondusif, menciptakan interaksi, dan bahkan intensitas pertemuan dengan orang tua perlu ditingkatkan baik melalui pertemuan formal maupun non-formal. Guru harus mempunyai budaya kerja disiplin, berdedikasi tinggi, bertanggung jawab dan selalu melakukan inovasi dalam pembelajaran.

2.1.3.3 Tata Usaha
Tata usaha sebagai unsur tenaga kependidikan harus mampu memberikan pelayanan yang baik dalam administrasi kepada kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua yang membutuhkan pelayanan dari tenaga adminstrasi. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sekolah, tata usaha harus bisa menjalin kerjasama yang
10
harmonis dengan semua pihak yang membutuhkan pelayanan administrasi dari sekolah. Prinsip pelayanan diterapkan oleh seorang tata usaha adalah; (1) Ketepatan waktu pelayanan, (2) Akurasi pelayanan, (3) Kesopanan dan keramahan, (4) Tanggung jawab, (5) Kelengkapan dan kemudahan, (6) Variasi model pelayanan, dan (7) Kenyamanan dalam memberikan pelayanan.

2.1.3.4 Komite Sekolah
Sesuai dengan prinsip Manajemen Berbasis Sekolah, maka peranan komite sekolah dirasakan banyak manfaat dan pengaruhnya terhadap kemajuan sebuah sekolah. Komite sekolah merupakan wadah yang menghubungan antara pihak sekolah dengan orang tua, mempunyai peran yang sangat penting.
Untuk dapat memberdayakan dan meningkatkan peran masyarakat, sekolah harus dapat membina kerja sama dengan orang tua, menyiapkan suasan kondusif dan menyenangkan bagi peserta didik dan warga sekolah. Peran komite sekolah merupakan aplikasmi dari prinsip total quality management melalui mekanisme yang menekankan pada peningkatan mutu pendidikan dengan pengembangan masyarakat.
Menurut Uno (2007:93) komite sekolah dapat dilibatkan dalam; (1) Penyusunan rencana dan program sekolah, ( 2 ) Penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS), (3) Pelaksanaan program pendidikan, dan (4) Akuntabilitas pendidikan. Dalam penyusunan rencana dan program, komite sekolah dapat membantu sekolah untuk mengumpulkan fakta-fakta kebutuhan serta potensi sumber daya yang tersedia di dalam masyarakat. Penyusunan rencana
11
pendapatan dan belanja sekolah selaian, kepala sekola, guru, juga harus melibatkan komite sekolah sebagai wakil stakeholder pendidikan, dari sisi belanja sekolah, seluruh jenis pengeluaran untuk kegiatan pendidikan di sekolah harus juga diketahui oleh komite sekolah. Mekanisme ini dilakukan untuk memperkecil penyalagunaan pendapatan dan pengeluaran sekolah. Komite sekolah sebagai partner kepala sekolah dalam mencari sumber-sumber daya pendidikan, melakukan penelitian tentang permasalahan dalam pembelajaran di sekolah. Komite sekolah dapat menyampaikan ketidakpuasan para orang tua murid akan rendahnya prestasi sekolah dan pelayanan sekolah.













12
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Variabel dan Defenisi Operasional
3.1.1 Variabel Penelitian
Sutrisno Hadi dalam Arikunto,(2006:116) mendefinisikan variabel sebagai gejala yang bervariasi. Gejala adalah objek penelitian, sehingga variabel adalah objek penelitian yang bervariasi. Variabel ada yang mempengaruhi dan ada variabel akibat. Variabel yang mempengaruhi disebut variabel peyebab, variabel bebas atau independent variabel dengan symbol X sedangkan variabel akibat disebut variabel terikat,variabel tergantung atau dependent variabel dengan symbol Y.
Dalam proposal penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel X adalah pemberdayaan warga sekolah sebagai variabel yang mempengaruhi terhadap variabel Y yaitu mutu pelayanan sebagai variabel akibat atau yang dipengaruhi.

3.1.2 Defenisi Operasional
Dengan memperhatikan uraian pada tinjauan pustaka di atas maka dapat didefinisakan secara operasional bahwa pemberdayaan adalah upaya untuk melibatkan semua tenaga dan komponen sekolah dalam rangka memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan bagi orang tua murid.


13
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi penelitian
Proposal penelitian ini direncanakan dilaksanakan di SD Negeri 004 Desa Teluk Lingga Kecamatan Sengata Utara Kabupaten Kutai Timur.

3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan antara 3 – 4 bulan.

3.3 Populasi dan Sampel
Setiap penelitian mempunyai sumber data atau subjek dari mata data dapat diperoleh. Yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah semua orang tua wali murid di Sekolah Dasar Negeri Nomor 004 Sengata Utara. Sumber data dapat dibedakan atas populasi dan sampel.

3.3.1 Populasi
Yang menjadi populasi atau keseluruhan subjek penelitian dalam proposal ini
semua orang tua/ wali murid di SD Negeri Nomor 004 Sengata Utara Kabupaten Kutai Timur yang berjumlah 720 orang, yaitu wali murid dari siswa kelas I sampai siswa kelas VI yang terdaftar dalam tahun pelajaran 2008 / 2009.



14
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Karena keterbatasan peneliti, baik waktu, tenaga, biaya dan kemampuan maka dalam proposal penelitian yang akan dijadikan sumber data ditentukan melalui teknik sampel kelompok atau cluster sampel.
Teknik sampel kelompok dalam proposal penelitian ini dimaksudkan untuk mewakili populasi dari tingkat pendidikan sumber data. Tingkat pendidikan yang akan dijadikan sumber data mulai dari lulusan SD sederajat sampai lulusan sarjana pada setiap jenjang kelas. Tingkat pendidikan orang tua dari kelas I sampai kelas VI diharapkan terdapat semua tingkat pendidikan. Sampel setiap jenjang kelas akan diwakili 60 orang dengan memperhatikan tingkat pendidikan orang tua. Untuk lebih jelasnya tentang pengambilan sampel penelitian pada lampiran tabel 1.

3.4. Pengumpulan Data
3.4.1 Instrumen Pengumpulan
Instrumen pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen berupa angket atau kuesioner yaitu sumber data diberikan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari respon tentang pelayanan dari warga sekolah di SDN 004 Sengata Utara kepada orang tua murid yang dialami sendiri atau hal-hal yang ia ketahui.


15
3.4.2 Penyusunan Instrumen
Instrumen pengumpulan data disusun dengan memperhatikan responden yang akan mengisi angket mulai dari penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, jumlah pertanyaan yang diharapkan dapat mewakili hal-hal yang diperlukan dalam penarikan kesimpulan, waktu yang digunakan oleh responden untuk menjawab pertanyaan dalam angket. Hal lain yang perlu juga diperhatikan pada penyusunan instrumen adalah membuat pertanyaan yang memungkinkan responden memberikan jawaban yang sebenarnya dan jujur. Instrumen angket direncanakan disusun kurang lebih satu bulan sejak proposal selesai diseminarkan dan disetujui oleh pembimbing tesis.

3.4.3 Jenis Angket
Jenis angket yang digunakan adalah rating scale (skala bertingkat), yaitu respon diberikan sejumlah pertanyaan dengan diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan mulai dari sangat baik, baik, cukup sampai kepada sangat kurang/sangat tidak baik.

3.4.4 Pelaksanaan Pengumpulan Data
Setelah proposal penelitian ini selesai direvisi berdasarkan petunjuk dosen pembimbing dari hasil seminar judul penelitian tesis,dan semua administrasi penelitian selesai maka pengumpulan data akan segera dilaksanakan.

16
3.5 Pengolahan Data
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, maka data yang dikumpulkan merupakan data kuantitatif yang diolah dengan rumus-rumus statistik secara manual. Data yang diperoleh melalui angket atau ceklis, dijumlahkan atau dikelompokkan sesuai dengan instrumen yang digunakan. Instrumennya terdiri dari empat pilihan yaitu sangat baik, baik, cukup dan kurang baik. Dengan bergradasi 4, maka peneliti mengolah atau menganalisis data sebagai berikut ;
1. Sangat baik, menunjukkan gradasi paling tinggi dengan nilai 4,
2. Baik, menunjukkan gradasi satu tingkat lebih rendah dari gradasi sangat baik
dengan nilai 3,
3. Cukup, menunjukkan gradasi satu tingkat lebih rendah dari gradasi baik dengan
nilai 2,
4. kurang baik, menunjukkan gradasi paling rendah dengan nilai 1.
Angket yang dikumpulkan terlebih dahulu dikelompokkan sesuai dengan tingkat pendidikan responden.Setelah dikelompokkan kemudian dijumlahkan berdasarkan tingkat pendidikan, kemudian digeneralisasi untuk penarikan kesimpulan.





17
Daftar Pustaka.

Arikunto, Suharsini.2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Uno, H.Hamzah B.2007.Profesi Kependidikan: Problem,Solusi,dan Reformasi
Pendidikan di Indonesia.Jakarta: Bumi Aksara.
Usman, Husaini. 2006. Manajemen: Teori,Praktik,dan Riset Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara.
Sutopo dan Adi Suryanto.2006. Pelayanan Prima. Jakarta: Lembaga Administrasi
Negara Republik Indonesia.
Yasyin, Sulchan.1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya: Amanah.
Winataputra, H.Udin S. 2006. Pedoman Umum : Sekolah Sebagai Wahana
Pengembangan Warga Negara Yang Demokrasi dan Bertanggung Jawab.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Wihardit, Kuswaya. 2006. Pedoman: Pemberdayaan Masyarakat Sekolah dan
Masyarakat Sekitar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Departemen Pendidikan Nasional .2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional. Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Undang-Undang Guru dan Dosen
Jakarta.






ii

RENCANA JADWAL PENELITIAN
No
Jenis Kegitan
Rencana Pelaksanaan
Ket
1
Pengajuan Judul
1 Minggu

2
Persiapan dan Pelaksanaan Seminar Judul
1 Minggu

3
Permohonan izin penelitian
1 Minggu

4
Penyusunan angket
4 Minggu

5
Pengumpulan Data Sampel
1 Minggu

6
Penyebaran angket
2 Minggu

7
Pengumpulan angket yang sudah diisi oleh responden
1 Minggu

8
Pengecekan angket respon
1 Minggu

9
Pengolahan angket respon
4 Minggu

10
Penulisan / Penyusunan Tesis
14 Minggu

10
TOTAL WAKTU
30 Minggu



Sengata, 20 Juni 2009
Peneliti,



Marthinus Arruan, S.Pd
NIM : 0905136125

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar