Selasa, 27 Oktober 2009

MOTIVASI PEMBELAJARAN

PENERAPAN MOTIVASI DALAM PEMBELAJARAN
Oleh Marthinus Arruan,S.Pd
Mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan UNMUL

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah
Kegiatan belajar tidak selalu dilakukan di dalam ruangan kelas berdasarkan rancangan tertentu tetapi ada kegiatan belajar yang dilakukan di luar ruang kelas tanpa mengikuti rancangan tertentu. Dengan kegiatan belajar di kelas secara konvensional siswa belajar untuk memenuhi tuntutan tugas dan rancangan dari guru. Tetapi masih begitu banyak aktivitas belajar yang tanpa mengikuti aturan pembelajaran yang dapat merangsang proses pembelajaran yang efektif, aktif, kreatif, menyenangkan dan aman yang tercerminkan dalam desain instruksional. Artinya, siswa belajar sesuai dengan kemampuan.
Guru – guru sangat menyadari pentingnya motivasi di dalam membimbing belajar siswa. Berbagai teknik misalnya kenaikan kelas, penghargaan, peranan-peranan kehormatan, piagam prestasi, pujian, dan celaan yang telah dipergunakan untuk mendorong / memotivasi siswa agar mau belajar, adakalahnya guru mempergunakan teknik-teknik tersebut secara tidak tepat. Dari uraian di atas, ternyata kesadaran tentang pentingnya motivasi bagi perubahan tingkalaku manusia telah dimiliki, baik oleh pendidik, para orang tua murid maupun masyarakat.
1
B. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan uraian di atas, maka rumusan dalam makala adalah bagaimana cara penerapan motivasi dalam pembelajaran di sekolah ?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Motivasi
Pada diri siswa terdapat kekuatan mental yang menjadi penggerak belajar. Kekuatan penggerak tersebut berasal dari berbagai sumber. Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi. Ada ahli psikologi pendidikan yang menyebut motivasi adalah kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, sasaran, dan insentif.
Motivasi adalah suatu proses di dalam individu, (Soemato,2006:203). Sejalan dengan itu Mc Donald memberikan sebuah defenisi tentang motivasi sebagai suatu perubahan tenaga di dalam diri/pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi dalam usaha mencapai tujuan,(Soemanto,2006:203).
2
Dalam defenisi ini berisi tiga yaitu (1) motivasi dimulai dengan suatu perubahan dalam diri seseorang, (2) motivasi ditandai oleh dorongan afektif dan (3) motivasi ditandai oleh rekasi-reaksi mencapai tujuan. Kita berasumsi bahwa setiap peprubahan motivasi mengakibatkan beberapa perubahan tenaga di dalam sistem neuoro fisiologi. Orang yang termotivasi, membuat rekasi-reaksi yang mengarahkan dirinya kepada usaha mencapai tujuan.
Motivasi adalah daya pendorong dari keinginan kita sebagai energi dari dalam agar yang kita inginkan terwujud.(Sofuan,2008) Jadi motivasi merupakan energi pendorong dari dalam diri manusia yang dapat menimbulkan keinginan dan ambisi. Banyak orang mempunyai ambisi dan keinginan tetapi tidak mempunyai inisiatif dan kemauan untuk mengambil langkah untuk mencapainya.
Motivasi adalah dorongan psikologis yang mengarahkan seseorang ke arah suatu tujuan,(http://id.wikipedia.org.wiki). Jadi motivasi adalah dorongan yang dapat membuat keadaan dalam diri individu yang memunculkan usaha dan kemauan yang terarah untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Motivasi adalah keinginan untuk berbuat sesuatu, (Usman,2006;223), jadi motivasi merupakan keinginan yang terdapat pada diri seseorang yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan atau sesuatu yang menjadi dasar atau alasan seseorang berprilaku. Motivasi merupakan proses psikis yang mendorong untuk melakukan sesuatu. Motivasi ada yang bersumber dari dalam diri dan dari luar diri.
3
2.2.Komponen Motivasi
Ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu (a) kebutuhan, (b) dorongan, dan (c) tujuan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia miliki dan yang ia harapkan. Moslow membagi kebutuhan menjadi lima tingkatan yakni a) kebutuhan fisiologis, b) kebutuhan akan rasa aman, c) kebutuhan sosial, d) kebutuhan akan penghargaan diri dan e) kebutuhan aktualisasi.Dorongan, merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan. Sedangkan tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh seorang individu. Tujuan tersebut mengarahkan perilaku, dalam hal ini perilaku belajar. Kekuatan mental atau kekuatan motivasi belajar dapat diperkuat dan dikembangkan. Interaksi kekuatan mental dan pengaruh dari luar ditentukan oleh responden prakarsa pribadipelaku.2.3 Pentingnya Motivasi Dalam Belajar
Motivasi belajar tidak hanya penting bagi siswa tetapi juga guru. Pentingnya motivasi belajar bagi siswa sebagai berikut: 1. Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir. 2. Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar 3. Mengarahkan kegiatan belajar 4. Membesarkan semangat belajar 5. Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar.
4
Pentingnya motivasi bagi guru sebagai berikut:1. Membangkitkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai
berhasil; membangkitkan, bila siswa tak bersemangat; meningkatkan, bila
semangat belajarnya timbul tenggelam; memelihara, bila semangatnya telah
kuat untuk mencapai tujuan belajar.2. Motivasi belajar siswa di kelas bermacam-macam; ada yang acuh tak acuh,
ada yang tidak memusatkan perhatian, ada yang bermain, disamping yang
bersemangat untuk belajar. Dengan bermacamragam motivasi belajar
tersebut, maka guru dapat menggunakan bermacam - macam strategi
mengajar belajar. 3. Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu di antara
bermacam-macam peran, seperti penasehat, fasilitator, instruktur, teman
diskusi, penyemangat, pemberi hadiah, dan guru pendidik.4 Memberi peluang guru untuk “unjuk kerja” rekayasa pedagogis

2.4.Jenis Motivasi Para ahli ilmu jiwa mempumyai pendapat bahwa motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu motivasi primer dan motivasi sekunder.
2.4.1.Motivasi PrimerMotivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis, atau jasmani manusia.
5
Manusia adalah mahluk berjasmani, sehingga perilakunya terpengaruh oleh insting atau kebutuhan jasmaninya. Di antara insting yang penting adalah memelihara, mencari makan, melarikan diri, berkelompok, mempertahankan diri, rasa ingin tahu, membangun, dan kawin. (Koeswara, 1989: Jalaludin Rachmat.1991)Menurut Freud insting memiliki empat ciri, yaitu tekanan, sasaran, objek dansumber. Tekanan adalah kekuatan yang memotivasi individu untuk bertingkah laku, semakin besar energi dalam insting, maka tekanan terhadap individu semakin besar. Sasaran insting adalah kepuasan atau kesenangan, kepuasan tercapai apabila tekanan enargi pada insting berkurang. Objek insting adalah hal-hal yang memuaskan insting, hal-hal yang memuaskan insting tersebut dapat berasal dari luar individu atau dari dalam individu. Sumber insting adalah keadaan kejasmaniaan individu.Insting manusia dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu insting kehidupan (life instinct) dan insting kematian (death instinct). Insting-insting kehidupan terdiri dari insting yang bertujuan memelihara kelangsungan hidup. Insting kehidupan tersebut berupa makan, minum, istirahat, dan memelihara keturunan. Insting kematian tertuju pada penghancuran, seperti merusak, menganiaya, atau membunuh orang lain.
2.4.2 Motivasi SekunderMotivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Menurut beberapa ahli, manusia adalah makhluk sosial. Perilakunya tidak hanya terpengaruh oleh faktor bilogis saja, tetap juga faktor-faktor sosial. Perilaku manusia terpengaruh oleh tiga komponen
6
a) Komponen afektif, komponen afektif adalah aspek emosional. Komponen ini
terdiri dari motif sosial, sikap dan emosi.b) Komponen kognitif, komponen kognitif adalah aspek intelektual yang terkait
dengan pengetahuan.c) Komponen konatif, komponen konatif adalah tekait dengan kemauan dan
kebiasaan bertindak.Perilaku motivasi sekunder juga terpengaruh oleh adanya sikap. Sikap adalah suatu motif yang dipelajari. Ciri-ciri sikap (a) merupakan kecenderungan berfikir, mersa, kemudian bertindak, (b) memiliki daya dorong bertindak, (c) relatif bersifat tetap, (d) berkecenderungan melakukan penilaian, dan (e) dapat timbul dari pengalaman, dapat dipelajari atau berubah. Perilaku juga terpengaruh oleh emosi. Emosi menunjukkan adanya sejenis kegoncangan seseorang. Emosi memiliki fungsi sebagai (a) pembangkit energi, (b) pemberi informasi pada orang lain, (c) pembawa pesan dalam berhubungan dengan orang lain, (d) sumber informasi tentang diri seseorang.Perilaku juga terpengaruh oleh adanya pengetahuan yang dipercaya. Pengetahuan tersebut dapat mendorong terjadinya perilaku. Perilaku juga terpengaruh oleh kebiasaan dan kemauan. Kebiasaan merupakan perilaku menetap, berlangsung otomatis. Kemauan seseorang timbul karena adanya (a) keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan, (b) pengetahuan tentang cara memperoleh tujuan, (c) energi dan kecerdasan, (d) pengeluaran enrgi yang tepat untuk mencapai tujuan. 7
2.5 Sifat Motivasi Motivasi seseorang dapat bersumber dari (a) dalam diri sendiri, yang dikenal sebagai motivasi internal, (b) dari luar diri seseorang yang dikenal sebagai motivasi eksternal. Motivasi ekstrinsik adalah dorongan terhadap perilaku seseorang, yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya. Orang berbuat sesuatu, karena dorongan dari luar seperti adanya hadiah, menghindari hukuman. Maslow dan Rogers mengakui pentingnya motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Menurut Maslow setiap individu bermotivasi untuk mengaktualisasi diri. Ia menemukan 15 ciri orang yang mampu mengaktualisasi diri. Ciri tersebut adalah (a) berkemampuan mengamati suatu realitas secara efisien, apa adanya, dan terbatas dari subjektivitasnya, (b) dapat menerima diri sendiri, orang lain, secara sewajarnya, (c) berperilaku spontan, sederhana, dan wajar, (d) terpusat pada masalah atau tugasnya, (e) memiliki kebutuhan privasi atau kemandirian yang tinggi, (f) memiliki kebebasan dan kemandirian terhadaplingkungan dan kebudayaannya, (g) dapat menghargai dengan rasa hormat dan penuh gairah,(h) dapat mengalami pengalaman puncak, (i ) memiliki rasa keterikatan, solidaritas kemanusiaan yang tinggi, (j) dapat menjalin hubungan pribadi yang wajar, (k) memiliki watak terbuka dan bebas prasangka, (l) memiliki standar kesusilaan tinggi, (m) memiliki rasa humor terpelajar, (n) memiliki kreativitas dalam bidang kehidupan, (o) memiliki otonomi tinggi. 82.6. Motivasi Dalam Belajar Motivasi belajar ada yang instrinsik ada yang ekstrinsik. Sedangkan penguatan motivasi-motivasi belajar tersebut berada di tangan para guru pendidik dan anggota masyarakat. Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain :2.6.1 Cita-cita atau Aspirasi Siswa Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembnagan akal, moral, kemauan, bahasa dan nilai-nilai kehidupan. Timbulnya cita-cita juga dibarengi oleh perkembangn kepribadian. Cita-cita siswa untuk menjadi seseorang (gambaran ideal) akan memperkuat semangat belajar, dan mengarahkan perilaku belajar. 2.6.2 Kemampuan Siswa Keinginan seseorang perlu dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Dengan didukung kemampuan, keberhasilan mencapai sesuatu akan menambah kekayaan pengalaman hidup, memuaskan dan menyenangkan hati anak. Karenanya kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.2.6.3 Kondisi Siswa Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmana dan rohani mempengaruhi motivasi belajar.2.6.4. Kondisi Lingkungan Siswa Siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar itu berupa keadaan alam, tempat tinggal, pergaualan sebaya dan lingkungan sekitar.
9
Oleh karena itu kondisi lingkungan sekolah yang sehat turut mempengaruhi motivasi belajar.2.6.5 Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar dan PembelajaranSemua unsur dinamis dalam proses belajar dan pembelajaran turut mempengaruhi motivasi belajar. Karena siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Untuk itu guru yang professional diharapkan mampu memanfaatkan semua unsure dinamis tersebut.
2.7. Upaya Guru dalam Membelajarkan Siswa Intensitas pergaulan guru dan siswa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa siswa. Karenanya sebagai pendidik guru harus dapat memilah dan memilih dengan memberikan tauladan yang baik untuk membelajarkan siswa.2.8.Upaya Meningkatkan Motivasi Dalam Belajar Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar seorang anak antara lain: 2.8.1 Optimalisasi penerapan prinsip belajarBeberapa syarat yang harus dimiliki seorang guru dalam upaya pembelajaran kepada siswa diantaranya, (a) guru telah mempelajari bahan pelajaran, (b) guru telah memahami bagian-bagian yang mudah, sedang dan sukar, (c) guru telah menguasai cara-cara mempelajari bahan, dan (d) guru telah memahami sifat bahan pelajaran. 10
Beberapa prinsip belajar di antaranya (a) belajar menjadi bermakna bila siswa memahami tujuan belajar, (b) belajar menjadi bermakna bila siswa dihadapkan pada pemecahan masalah yang menantangnya, (c) belajar menjadi bermakna bila guru mampu memusatkan segala kemampuan mental siswa dalam program tertentu, (d) sesuai dengan perkembangan jiwa siswa, (e) belajar bisa menjadi menantang bila siswa memahami prinsip penilaian dan faedah nilai belajarnya.
2.8.3 Optimalisasi Unsur Dinamis Belajar dan PembelajaranUpaya optimalisasi tersebut antara lain (a) memberi kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan hambatan belajarnya, (b) memelihara minat, kemauan, dan semangat belajar siswa, (c) meminta kesempatan pada orang tua siswa agar memberi kesempatan pada siswa mengaktualisasi diri, (d) memanfaatkan unsure-unsur lingkungan, (e) menggunakan waktu secara tertib, (f) merangsang siswa dengan penguatan.2.8.3. Optimalisasi Pemanfaatan, Pengalaman dan Kemampuan SiswaBeberapa upaya optimalisasi tersebut antara lain (a) menugasi siwa membaca bahan belajar sebelumnya, (b) guru mempelajari hal-hal yang sukar bagi siswa, (c) guru memecahkan dan mencari cara memecahkan hal-hal yang sukar, (d) guru mengajarkan cara memecahkan dan mendidikkan keberanian mengatasi kesukaran, (e) guru mengajak serta siswa mengalami dan mengatasi permasalahan, (f) beri kesempatan siswa yang mampu memecahkan masalah untuk membantu rekannya
11
2.8.4 Pengembangan Cita-cita dan Aspirasi Belajar Beberapa cara mendidik dan mengembangkan cita-cita belajar antara lain (a) menciptakan suasana belajar yang menggembirakan, (b) mengikut sertakan semua siswa untuk memelihara fasilitas belajar, (c) mengajak serta orang tua siswa memperlengkap fasilitas belajar.

BAB III
PENUTUP
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Motivasi sangat penting peranannnya dalam proses pembelajaran2. Guru harus membangkitkan motivasi siswa dalam pembelajaran.3. Cara membangkitkan motivasi belajar siswa ada bermacam-macam.









12
DAFTAR PUSTAKA
Soemanto, Wasty.2006.Psikologi Pendidikan:Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan.
Jakarta: Renika Cipta.
Usman, Husaini. 2006. Manajemen: Teori,Praktik dan Riset Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara
http:/id.wikipedia.org/wiki/Motivasi. 21 Pebruari 2009.
Sofuan, 18 Maret 2008,Motivasi dalam Pengembangan Diri.http:/sofuan.co.id.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar